Tersadar bahwa usia tak semuda dahulu, ya sudah
20 tahun. Sudah bukan saatnya mengalaukan tentang perasaan yang
sejatinya tidak jelas untuk digalaukan. Banyak kawan yang mengingatkan, “hey
kamu bukan anak SMA yang cuma galauin masalah cinta”. Memang benar, tapi bila
menyangkut perasaan, apalah mau dikata. Sangat anak kecil memang jika terus
menggalau karena seseorang. Galau, curhat, dan mengangis. Oh perasaan apakah
itu?
Teringat nasihat kawan lama kalau perasaan timbul
dari diri sendiri. Tidak ada yang membuatnya. Termasuk galau, hanya diri si
pembuat galau yang membuatnya. Namun di sisi lain, ada faktor lain yang membuat
perasaan itu semakin nyata. Entah itu hanya hasil pikiran si pembuat galau atau
memang faktor tersebut yang membuatnya. Satu hal yang pasti, terus berpikir
positif. Setidaknya itu dapat mengurangi perasaan itu. Lalu bagaimana jika
berpikir postif tetap menghasilkan perasaan seperti itu? Bagaimana jika faktor
lain turut terlibat? Apakah harus berdiam diri?
Sebagian orang berpendapat bahwa dengan diam masalah
ataupun perasaan yang menggangu bisa hilang dengan sendirinya. Tapi untuk sebagian
lain, diam tidak menyelesaikan apa-apa. Dan bagi orang yang berada diantara
keduanya hanya bisa bingung termenung. Simpelnya adalah mengikuti apa yang hati
mau. Tapi terkadang hati bisa salah, lalu apa yang harus dilakukan? Apakah menyalahkan
hati? Tidak. Justru itu semakin membuat keadaan semakin buruk. Lalu apa? Berbincang
dengan pihak yang mempertegas perasaan itu? Ya kalau pihak tersebut mengerti,
kalau tidak?
Oh
perasaan apakah itu? Mengapa terasa begitu nyata dan menyesakkan?